Kue Dalam Etalase  — 2 August 2016

Kue Dalam Etalase 

  Sore itu, hujan turun dengan derasnya . Saat itu aku berada di kedai kopi langgananku, seperti biasa robusta ditemani singkong keju . Kafe yang unik menurutku, karena menyajikan teman minum kopi berupa makanan tradisional yang diolah dengan sentuhan modern, itulah kenapa aku betah duduk berdiam disana apalagi hujan sedang turun . Syahdu sekali bukan . 

  Saat itu aku sedang menyelesaikan deadline tulisanku, saat itu saat aku akan kembali menekan tuts  untuk meneruskan menulis tiba tiba datang seorang laki laki . Dengan senyumnya dia bertanya “boleh aku duduk disini ? Aku hanya berteduh, semua tempat rupanya sudah penuh terlebih pemandangan disini menarik” aku berhenti dengan tangan masih diatas keyboard . Kemudian aku mengangguk pelan mempersilahkan seseorang itu untuk duduk . 

  Lama kita berkutat dengan urusan masing masing, kembali aku melanjutkan menulis sementara seseorang didepanku menikmati sebuah novel warna biru muda . Ah sepertinya dia mengetahui aku melirik nama pengarang novel yang dibacanya, dia berhenti membaca dan menatapku, dengan cepat aku menunduk . Dia meletakkan novelnya, kemudian tersenyum sambil menyodorkan tangan “namaku han, kamu ?” . Aku sedikit mendongak menatapnya, membalas salam perkenalan itu dengan menangkupkan dua tangan di depan dada “aku jasmin” . Dia heran mengapa aku tak bersalaman, itu mungkin yang ada di benaknya . Benar saja dia menanyakan kepadaku “mengapa kamu tak mau bersalaman dengan ku ? Apa kamu merasa takut kalau kalau aku orang jahat ?” . Aku tersenyum dan sedikit tertawa “aku tau kamu orang yang santun, aku hanya ingin seperti kue di dalam etalase itu” kataku sambil menunjuk toko kue seberang jalan . Dengan bingung dia bertanya kepadaku sekali lagi, kali ini dengan sedikit membungkuk badan kedepan antusias “aku tak paham, kue dalam etalase? Bisa kau ceritakan?” 

  Aku tersenyum kembali, ” kau tau kue dalam etalase itu, anggun sekali tidak ada yg menyentuh nya kecuali si pembuat kue . Sebelumnya dia telah melalui perjalanan, dalam adonan dari bahan pilihan, kemudian dia proses dengan penuh rasa cinta dari pemiliknya, adonan tersebut kemudian di panggang dengan panas yang membara menjadikannya matang, setelah itu dia disajikan dalam etalase tanpa hiasan yang berlebihan namun terlebih menawan . Tidak ada yang berani menyentuh, sampai ada seorang pembeli dengan segala keberanian, mendatangi toko kue menginginkan kue tersebut dan terucaplah akad atau serah terima dengan halal kue antara pembuat dan pembeli . Barulah kue tersebut berpindah pemiliknya, berpindah tanggung jawab dengan teramat berharga . Tidak sembarangan” 

  Dia ternyata sedari tadi menyimak ceritaku, lalu hendak bertanya sesuatu . Namun aku sudah terlanjur malu bercerita panjang dengan orang yang baru ku kenal segera kukemasi laptopku dan beranjak pergi, “aku duluan, hujan sudah reda . Assalamualaikum” dengan sigap dia menjawab dengan berdiri “Wa’alaykumsalam, lalu dimana alamat toko kue ayahmu ?” 

  Aku menengok kebelakang tersenyum “di halaman belakang novel yang kau baca “.

Cermin Kamarku — 30 July 2016

Cermin Kamarku

Lalu kepada siapa lagi aku hendak bercerita, mungkin cermin dia yang paling jujur . Walaupun tak berkata, tak memberi komentar namun dia pendengar yang baik . Tak pura pura tertawa saat mendengar cerita lucuku, atau pura pura sedih dengan derita nestapa yang aku lalui . Dia jujur, walaupun tidak seperti kau yang menawarkan aku bahu saat air mataku mulai menetes kala aku bercerita . Walaupun tidak tertawa sekeras kau saat kulontarkan lelucon bodohku . Ah cermin setidaknya lebih jujur, maaf bukan maksud aku hendak membandingkan kau dengan cermin kamarku tapi memang harus ku akui dia lebih sederhana dalam menanggapi ceritaku . Tidak berlebihan ataupun pasif . Sederhana saja saat aku mengulurkan tangan, dia menyambut nya dengan ceria seperti aku . Dan saat aku menangis, ingin seseorang memelukku dia dengan ringan tangan akan melakukannya . Aku nyaman dengan cermin kamarku .  

Salahkan Aku  —

Salahkan Aku 

Jangan salahkan hijabku, jika aku masih berbuat khilaf dan dosa itu murni kesalahanku . Salahkan ku yg masih fakir ilmu, jangan salahkan hijrah ku  . Mungkin kau bisa menggandeng tangan si pendosa ini untuk bersama mengharap ridho dan ampunan Nya . 

Ombak dan Jingga  — 29 July 2016

Ombak dan Jingga 

​Boleh aku terjun ke bawah ? Menerjang kalut, siapa tau aku akan bersua dengan mu . Seperti debur ombak yg datang menemui karang, walaupun dengan teramat sadis menghantamnya . Setidaknya itu bisa membuat mereka bertemu, atau jangan jangan ombak sebenarnya ingin datang menemui pasir pantai mengembalikan kelembutannya  yang merekam jejak jejak langkah pertemuan . Pertemuan yang menyisakan luka , namun dengan lembut ombak menyapu dan memperbaiki segala derita pasir . Walau setelahnya ombak dengan tega meninggalkannya dan datang kembali dengan tergesa gesa yang amat mengejutkan . Kemudian karang tersenyum kokoh, mengetahui bahwa ombak datang bukan hanya untuk dirinya . Hanya menjalankan tugas alam, bergerak dari satu pantai ke pantai lain yang mungkin jauh lebih indah . 

Sementara aku dengan takjim akan menunggumu, menggagalkan niatku terjun karena aku sadar belum saatnya . Aku akan dengan sabar menunggu dalam batas cakrawala senja , dimana ombak dengan tenang menjemput jingga membawa serta kerinduan . Sungguh akan menjadi pemandangan maha magis yang Tuhan suguhkan atas nama keanggunan menghargai proses – Rinjani, Juli 2016 .