Dalam Senja yang Mulai Memerah — 2 August 2017

Dalam Senja yang Mulai Memerah

Dalam senja yang mulai memerah, di kala burung-burung camar kembali ke peraduan setelah lelah terbang seharian lepas. Disaat angin sepoi-sepoi mulai meninabobokan alam semesta menutup tirai kehidupan untuk hari ini. Mencukupkan sinar matahari yang terpancar dari sang surya, berganti dengan bulan bundar purnama yang gagah berani bertengger di langit.

Saat itulah seorang perempuan dengan sweater warna hijau dipadu dengan syal warna hijau tua yang melingkar dilehernya tersenyum sambil memejamkan mata dengan kedua tangan dibiarkan mengepak disamping kanan dan samping kiri. Duhai, dia sedang merasakan udara yang menyulut diantara rongga-rongga hidungnya. Dia sedang menikmati suasana seelok ini di tepi sebuah danau buatan yang terlihat sangat alami. Dia sedang bercerita kepada alam betapa berwarnanya nasib yang dia terima. Sang alam memberi telinga dan mendengarkan cerita penuh takjim. Mendengarkan lalu menjawab dengan angin yang menenangkan.

***

“Raya, kemana saja kau ini? Aku lelah mencarimu seharian!” teriak seorang laki-laki dari belakang. Yang dipanggil hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan langkah. Laki-laki itu lalu mengejarnya dan menahan tangannya.

“Ada apa mencariku Rehan?” tanya Raya dengan wajah yang memerah. Mereka sekarang berhadapan.

“Hari ini jadwalnya kita “bermain” Rayaaa” dengan memberikan tanda kutip dengan tangan pada kata bermain jawab Rehan dengan mengusap kepala Raya. Yah, ini adalah jadwal bulanan Raya untuk melakukan Kemoterapi. Raya divonis menderita penyakit kangker hati stadium empat. Kemoterapi tidak akan menghilangkan penyakitnya. Namun hanya menunda penyebaran kangker, dan di setiap kemo itulah Rehan tidak pernah absen menemani Raya. Dimana keluarga Raya? Orang tua Raya meninggal di musibah bom Bali dua yang merenggut semua kebahagiaan Raya, hanya tersisa Kakak laki-lakinya Lenan. Raya dan Lenan pindah ke Lombok untuk tinggal bersama Nenek mereka. Lenan sekarang mengurusi Resort keluarga dan selalu mengembangkannya. Rehan adalah teman Lenan namun sering bermain bertiga dengan Raya. Mereka dari kecil berteman akrab dan bertemu saat keluarga Raya berkunjung ke Lombok dulu. Lalu sekarang dipertemukan di dalam satu Univertas ternama di daerah Lombok. Lenan selalu mempercayakan adeknya ditangan Raya termasuk urusan kemo tersebut.

Disetiap sebelum berangkat kemo Rehan selalu memberikan kejutan untuk Raya. Semua dia berikan agar Raya meresa senang dan tidak merasakan sakitnya proses kemo. Dan setiap pulang dari kemo Rehan mengajak Raya untuk menikmati indahnya alam di daerah Lombok semua tempat yang tidak pernah dikunjungi Raya. Mulai dari pantai di setiap Gili.

Raya selalu bahagia tiap kakinya berhasil menyentuh pasir pantai dan terkena ombak. Raya bahagia, tawa simpulnya. Demi melihat semua keceriaan di wajah Raya, Rehan rela menukar semua waktunya untuk menyiapkan kejutan demi kejutan untuk Raya. Semua hal indah ini terekam dengan baik dan manis di kamera Rehan. Semua hal yang mereka lakukan dan keceriaan itu.

Dan sore itu selepas kemo, Rehan seperti biasa mengajak Raya kesuatu tempat namun ada yang berbeda. Mata Raya ditutup oleh syal sedari tempat kemo, hingga mereka turun dari mobil dan berjalan menuju suatu tempat. Saat membuka mata Raya terkejut dan sangat bahagia, dia sekarang berada dalam sebuah bukit yang dari sini bisa memandang semua keindahan gili. Dan dihadapannya tertata dengan rapi meja yang terdapat bunga tulip kesukaannya dalam sebuah vas bunga dan buah strawberi dalam piring di padu dua minuman. Sore yang luar biasa di mata Raya. Dia menutup mulut dengan dua tangannya.

“Rehaaaaaaaan” Raya berteriak kencang sekali, “Terima kasih banyak yaaaaaa” tanpa malu, tanpa berfikir panjang.

Rehan tersenyum puas, semua yang dia lakukan selalu berhasil membuat Raya bahagia. Setidaknya ini mengurangi beban yang ditanggung Raya dan melupakan sejenak beban rasa sakit kangker yang sebenarnya selalu menggerogoti tubuh Raya.

“Iyaaaaa sama sama Rayaaaaaaaaaaa” teriak Rehan menjawab ucapan terima kasih yang diucapkan Raya padanya. Ada yang ingin diungkapkan oleh Rehan padanya, kemudian mengambil gitar dan mulai mendengdangkan sebuah lagu. Lagu yang dalam dan syarat akan makna. Lagu yang liriknya menggambarkan perasaan Rehan terhadapap perempuan yang dicintainya sedari kecil, sedari mereka masih bermain gundu dan petak kumpat, sedari rambut Raya masih dikepang dua. Rehan mengungkapkannya melalui sebuah lagu.

Rehan duduk bukan di kursi yang telah dia siapkan, bukan. Dia duduk di tepi tebing dan menghadap ke arah matahari terbenam. Raya duduk disampingnya. Mendengarkan dengan bibir selalu tersenyum, wajah mereka berhadapan. Saling menatap penuh makna dan dalam.

You’ve got that smile,

That only heaven can make.

I pray to God everyday,

That you keep that smile.
Yeah, you are my dream,

There’s not a thing I won’t do.

I’ll give my life up for you,

Cos you are my dream.
And baby, everything that I have is yours,

You will never go cold or hungry.

I’ll be there when you’re insecure,

Let you know that you’re always lovely.

Girl, cos you are the only thing that I got right now

One day when the sky is falling,

I’ll be standing right next to you,

Right next to you.

Nothing will ever come between us,

I’ll be standing right next to you,

Right next to you.

Saat lagu itu selesai didendangkan Rehan, dia mengubah posisi duduknya untuk sekarang berhadapan dengan Raya, Raya melakukan hal yang sama. Rehan memegang tangan kanan Raya dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Dia mengeluarkan kotak cincin. Rehan terlihat gugup sekali, untuk kesekian kali menarik nafas dan mengeluarkannya. Seperti itu selama beberapa menit. Raya di hadapannya hanya tersenyum simpul dan tidak bisa berkata apa-apa sekarang, tidak seperti yang dia lakukan biasa selalu berteriak sesuka. Raya hanya diam menunggu kata yang akan di ucapkan Rehan dengan wajab merah merona dan pipi sebelah kanan terkena piasan senja yang meranum. Raya menyimak.

“Aku ngga bisa ngomong romantis, aku ngga bisa apa-apa sekarang. Aku hanya mau ngomong kalo aku cinta sama kamu Raya, sedari dulu kita waktu kecil. Dan aku berusaha meyakinkan perasaanku. Ternyata memang benar, aku mencintaimu sebagai seorang wanita bukan sebagai adek dari Lenan. Aku mencintaimu. Apakah kau menerimaku?” ungkap semua isi hati Rehan terhadap Raya. Raya hanya bisa mengangguk mantab dengan senyum diwajahnya. Rehan lalu memasangkan cincin yang manisssss sekali di jari kelingking Raya sebelah kiri. Lalu mencium kening Raya. Tanpa Raya sadar, semua kejadian itu terekam dalam kamera Lenan. Ada sesuatu yang akan terjadi.

Saat itu saat Rehan selesai mencium kening Raya, darah keluar dari hidung Raya. Raya mimisan. Dan pingsan. Dengan panik Rehan dibantu Lenan. Rumah sakit yang biasa menangani Raya memang tidak jauh dari lokasi Bukit itu. Raya segera mendapat penanganan darurat. Dan Raya koma, seluruh organ masih berfungsi namun Raya koma. Rehan dan Lenan sudah menduga hal ini akan terjadi. Dokter mengatakan hidup Rehan hanya tinggal menghitung hari.

Dalam menunggu raya yang koma, Rehan menyiapkan sesuatu. Semua hasil video yang direkam saat mereka bersama dari dulu dari mereka kecil. Semua digabungkan. Rehan membuat sebuat film dokumenter yang Raya sebagai tokoh utamanya. Semua ekspresi Raya terekam dengan manis di kamera Rehan yang memang sejak kecil sudah menyukai dunia perfilman. Rehan mempersembahkannya untuk perempuan luas biasa yang sekarang sedang berjuang melawan semua rasa sakitnya. Meskipun Rehan tak pernah tau apakah ia masih punya kesempatan untuk melihat senyum itu lagi.

Rumah sakit, diatas ranjng sedang terbaring lemas tak berdaya dan tak sadarkan diri. Lenan memagang tangan kiri adeknya sambil terus melafalkan doa-doa dan harapan agar adeknya sadar. Sudah satu minggu Raya tak sadarkan diri, dan sore itu menuju senja. Tuhan memberikan angin bahagia, Raya sadar. Rehan kata pertama yang diucapkan Raya. Saat kedua matanya mulai melihat langit-langit kamar rumah sakit. Lenan mengambil ponsel di saku celananya. Menghubungi Rehan.

“Rehan, … Raya sadar” sambil terbata-bata Lenan mengucapkannya. Air mata mengalir dari mata Lenan, ada janji kehidupan di mata Raya. Rehan bukan main diseberang telephone sana bergumam mengucapkan syukur. Raya sadarkan diri.

***

Di tepi danau seorang perempuan yang mengenakan syal itu menoleh kebelakang mendapati Rehan berdiri dibelakangnya membawa seikat bunga tulip. Dan menggandeng tangan kekasihnya. Mereka akan pergi kesuatu tempat. Bioskop. Ya, hari ini film dokumenter karya Rehan akan di tayangkan di bioskop.

Saat memasuki ruang itu, tangan Raya semakin dingin di pegangan Rehan. Raya tidak suka kegelapan. Rehan menggenggam tangan Raya semakin erat dan meyakinkan dengan tatapannya berbisik “semua akan baik-baik saja” . Mereka orang pertama yang datang memasuki ruang itu menonton film tersebut. Film tentang mereka. Dan para penonton memasuki ruangan. Penayangan perdana film itu “ Dalam Senja yang Mulai Memerah”.

Betapa terkejutnya Raya yang melihatnya. Film itu adalah dia sebagai tokohnya. Film itu tentang dia, seluruh penonton dengan takjim menonton bahkan ada satu dua yang menangis saat adegan Rehan menjaga Raya di Rumah sakit. Semua ekspresi Raya berhasil membius penonton. Raya melihat film itu dari awal, walaupun saat pertengahan dia mulai lemas dan Rehan hendak membawa Raya keluar namun Raya menolak. Raya ingin menyaksikan film itu hingga selesai, film tentang perjalanan hidupnya bersama Rehan dan penyakitnya.

Dan saat film akan berakhir bahagia, film yang diakhiri oleh adegan di tepi bukit di langit senja itu. Raya mengucapkan kata “Terima kasih Rehan untuk semuanya, aku sangat mencintaimu” ucap Raya lirih. Dan itulah kata terakhir Raya, Raya menghembuskan nafas terakhirnya dengan kepala disendarkan di bahu Rehan. Film berakhir. Penonton menyaksikan ending bahagia di film.

Namun kisah sebenanya adalah ketika Rehan mencium kening Raya yang ada di pangkaunnya. Dimana entah dari mana lampu berfokus di Rehan dan Raya. Rehan menangis dalam lirih kemudian memapah tubuh Raya membawanya keluar dari bioskop. Saat itulah penonton diam seribu kata, terkesima atas adegan ini. Film itu menjadi film yang menarik jutaan penonton atas kisahnya.

***

Dan sore itu menuju senja, setelah Raya dikebumikan. Rehan menuju suatu tempat. Bukit itu. Menengadahkan tangannya merelakan hujan membasahi tubuhnya. Sore itu, dia melepas kepergian Raya dengan damai.

Ending

Advertisements