Runyam — 24 March 2017

Runyam


Aku remuk

Menggigil runyam dalam jejak

Aku lebur

Dalam pelukan nestapa

Menghirup asap sisa pembakaran semalam

Masih kudengar 

Renyah tawamu

Itu ilusi

Bodoh !

Lalu beranjak turun

Lereng gunung Welirang

Sunyi

Tidak dengan otakku

Masih panas keningku 

Kau berpaling 

Mengangguk iya saat dia bertutur cinta

Aku remuk tak berbentuk

Runyam

Advertisements
Biru — 19 March 2017

Biru

Di tepi pantai

Diapit perahu perahu nelayan yg tertambat 

Di atas pasir pantai yg lembut dan batu batu kecil

Anak anak berkulit legam terbakar teriknya matahari, enggan bersekolah dg uang sesal di dalam dompet 

Hasil jerih payah membabu pada nelayan

Ibu ibu menggendong anaknya yg ingusan

Nelayan yg bercengkrama membicarakan masalah laut aku tak paham mungkin hanya cangkir kopi yg dapat mengerti

Pelelangan ikan yg tidak terlampau ramai, bukan musim ikan katanya

Kotak besar, “Pembangunan Masjid” penuh ikan dari satu dua ekor hasil tangkapan

Birunya laut, langit, perahu ah komposisi yg tepat bukan ?

Pulau sempu hanya dua tiga kali dayung tapi urung aku kesana, bukankah ada sesuatu yg akan yg akan sangat spesial saat kita mengurungkan nya membuat nya tidak terjadi, meski dg mudah membuat nya terjadi .

Akan sangat menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yg hanya sepintas terjadi dan membuat penasaran saat mengenangnya agar ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu . Memutuskan cukup, hanya mereka-reka seperti apa indahnya pulau Sempu dg segala keanggunan nya . 

Itu lebih menyenangkan bagiku, merasa cukup justru saat kesempatan terbuka lebar di depan mata . Hal itu juga di Pantai Clungup, pantai yg masih perawan masih indah seperti yg kubayangkan . Urung sampai kesana, tapi sudah puas saat bertemu gerombolan lain pantainya bagus .

Sesederhana itu kesempatan .

Biru —

Biru

Di tepi pantai

Diapit perahu perahu nelayan yg tertambat 

Di atas pasir pantai yg lembut dan batu batu kecil

Anak anak berkulit legam terbakar teriknya matahari, enggan bersekolah dg uang sesal di dalam dompet 

Hasil jerih payah membabu pada nelayan

Ibu ibu menggendong anaknya yg ingusan

Nelayan yg bercengkrama membicarakan masalah laut aku tak paham mungkin hanya cangkir kopi yg dapat mengerti

Pelelangan ikan yg tidak terlampau ramai, bukan musim ikan katanya

Kotak besar, “Pembangunan Masjid” penuh ikan dari satu dua ekor hasil tangkapan

Birunya laut, langit, perahu ah komposisi yg tepat bukan ?

Pulau sempu hanya dua tiga kali dayung tapi urung aku kesana, bukankah ada sesuatu yg akan yg akan sangat spesial saat kita mengurungkan nya membuat nya tidak terjadi, meski dg mudah membuat nya terjadi .

Akan sangat menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yg hanya sepintas terjadi dan membuat penasaran saat mengenangnya agar ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu . Memutuskan cukup, hanya mereka-reka seperti apa indahnya pulau Sempu dg segala keanggunan nya . 

Itu lebih menyenangkan bagiku, merasa cukup justru saat kesempatan terbuka lebar di depan mata . Hal itu juga di Pantai Clungup, pantai yg masih perawan masih indah seperti yg kubayangkan . Urung sampai kesana, tapi sudah puas saat bertemu gerombolan lain pantainya bagus .

Sesederhana itu kesempatan .

Urai — 12 March 2017

Urai

Sepertinya dia tidak menikmati pertunjukkan malam ini . Sudahlah apa kau tak lelah mencumbui waktu, yang terang mencampakkan mu ? Telah anggun mematung terpasung oleh senja, yang kata orang menikam membius jenis pasang mata manapun . Sudahlah, uraikan asa yang tak masuk akal . Ketidakwarasan padamu menjerat tanpa ampun, sedikit kau tertatih terjerembab dalam sukma sulam sulam lara . Kau gagal, daya bayangan kian pekat tak bisa kau tepis barang sekeping .