Merdeka ?? — 17 August 2016

Merdeka ??

​Hari katanya negaraku genap 71 tahun merdeka, kata siapa ? Buktinya masih banyak tikus keranjingan hilir mudik menghiasi panggung sandiwara . Anak kelaparan di tanah surga lalu masih banyak anak jalanan yg mengadu nasib di panasnya ibu kota sementara sang sutradara negri sedang asyik berpesta pora . Buktinya pendidikan masih juga menjadi milik mereka yg berharta, omong kosong tentang beasiswa . Terlihat buruh berpeluh, pulang petang dengan gaji yang tak seberapa . Emas, minyak, air bahan tambang dijajakan murah oleh mereka yang bertahta . Pemuda harapan bangsa lupa wasiat ibu pertiwi karena sibuk dengan kuota . Ah agaknya Indonesia hanya tinggal nama, dari sabang merauke telah berpatok milik penjajah bangsa . Lalu sekali lagi aku bertanya, mana yang masih milik Indonesia ? Ah setidaknya aku berharap ulangtahunnya kali ini bukan hanya seremonial belaka, bukan hanya moment mengibarkan Sang Saka Merah Putih tapi jadi momentum langkah nyata kebangkitan seluruh elemen Tanah Air tercinta . Rinjani, 17 Agustus 2016 .

Keruntuhan yang Kokoh — 11 August 2016

Keruntuhan yang Kokoh

Runtuh memang, namun dia memilih tetap berdiri menawarkan seribu keindahannya yang tersisa . Kokoh dengan sisa reruntuhan kehidupan, tidak peduli walaupun renta . Dia yang menjadi magis, kala senja menyentuh tubuhnya . Seribu badai menghantam tidak gentar ia hadapi dengan senyuman dan berjuang penuh tekad . Tertegun ku memandangnya, barisan kalut ia sikap dengan dengan pantang menyerah karena yakin Tuhan nya lebih besar dari badai yg dihadapinya . Untuk seorang sahabat yang sedang dalam pilu yg mendalam sungguh Allah sedang memelukmu, merengkuh penuh hangat karena Dia sedang jatuh cinta padamu wahai reruntuhan yang kokoh .

Kue Dalam Etalase  — 2 August 2016

Kue Dalam Etalase 

  Sore itu, hujan turun dengan derasnya . Saat itu aku berada di kedai kopi langgananku, seperti biasa robusta ditemani singkong keju . Kafe yang unik menurutku, karena menyajikan teman minum kopi berupa makanan tradisional yang diolah dengan sentuhan modern, itulah kenapa aku betah duduk berdiam disana apalagi hujan sedang turun . Syahdu sekali bukan . 

  Saat itu aku sedang menyelesaikan deadline tulisanku, saat itu saat aku akan kembali menekan tuts  untuk meneruskan menulis tiba tiba datang seorang laki laki . Dengan senyumnya dia bertanya “boleh aku duduk disini ? Aku hanya berteduh, semua tempat rupanya sudah penuh terlebih pemandangan disini menarik” aku berhenti dengan tangan masih diatas keyboard . Kemudian aku mengangguk pelan mempersilahkan seseorang itu untuk duduk . 

  Lama kita berkutat dengan urusan masing masing, kembali aku melanjutkan menulis sementara seseorang didepanku menikmati sebuah novel warna biru muda . Ah sepertinya dia mengetahui aku melirik nama pengarang novel yang dibacanya, dia berhenti membaca dan menatapku, dengan cepat aku menunduk . Dia meletakkan novelnya, kemudian tersenyum sambil menyodorkan tangan “namaku han, kamu ?” . Aku sedikit mendongak menatapnya, membalas salam perkenalan itu dengan menangkupkan dua tangan di depan dada “aku jasmin” . Dia heran mengapa aku tak bersalaman, itu mungkin yang ada di benaknya . Benar saja dia menanyakan kepadaku “mengapa kamu tak mau bersalaman dengan ku ? Apa kamu merasa takut kalau kalau aku orang jahat ?” . Aku tersenyum dan sedikit tertawa “aku tau kamu orang yang santun, aku hanya ingin seperti kue di dalam etalase itu” kataku sambil menunjuk toko kue seberang jalan . Dengan bingung dia bertanya kepadaku sekali lagi, kali ini dengan sedikit membungkuk badan kedepan antusias “aku tak paham, kue dalam etalase? Bisa kau ceritakan?” 

  Aku tersenyum kembali, ” kau tau kue dalam etalase itu, anggun sekali tidak ada yg menyentuh nya kecuali si pembuat kue . Sebelumnya dia telah melalui perjalanan, dalam adonan dari bahan pilihan, kemudian dia proses dengan penuh rasa cinta dari pemiliknya, adonan tersebut kemudian di panggang dengan panas yang membara menjadikannya matang, setelah itu dia disajikan dalam etalase tanpa hiasan yang berlebihan namun terlebih menawan . Tidak ada yang berani menyentuh, sampai ada seorang pembeli dengan segala keberanian, mendatangi toko kue menginginkan kue tersebut dan terucaplah akad atau serah terima dengan halal kue antara pembuat dan pembeli . Barulah kue tersebut berpindah pemiliknya, berpindah tanggung jawab dengan teramat berharga . Tidak sembarangan” 

  Dia ternyata sedari tadi menyimak ceritaku, lalu hendak bertanya sesuatu . Namun aku sudah terlanjur malu bercerita panjang dengan orang yang baru ku kenal segera kukemasi laptopku dan beranjak pergi, “aku duluan, hujan sudah reda . Assalamualaikum” dengan sigap dia menjawab dengan berdiri “Wa’alaykumsalam, lalu dimana alamat toko kue ayahmu ?” 

  Aku menengok kebelakang tersenyum “di halaman belakang novel yang kau baca “.