Dua gadis di pematang sawah — 28 October 2017

Dua gadis di pematang sawah

Lembayung senja

Menembus tiap helai dedaunan

Gemericik air, menenangkan

Disana dengan riang dua gadis menikmati padi yg mulai menguning

Sembari mendendangkan lagu suka cita

Bersiul menirukan burung camar

Esok lusa belum tentu dapat terulang

Tergantikan deru mesin pengeruk kapur

Dua tiga hari mulai beroperasi

Merenggut nyawa kebahagiaan demi pundi keserakahan

Aduhai sungguh malang nasibmu

Tersungkur dalam jurang duka, terasing di tanah sendiri

Buka matamu, jgn kau lengah oleh bujuk rayu pengobral janji

Alih alih kesejahteraan

Hanya ada deru menyayat dada, tak ada padi menguning hari ini

Advertisements
aku ingin — 8 August 2017

aku ingin

Aku ingin menjadi dada tempat kau rebahkan keluhmu

Aku ingin menjadi pundak tempat kau sandarkan kesahmu

Aku ingin jadi tangan yang mengusap peluhmu

Aku ingin jadi hati yang tabah kan jiwamu

Menjadi telinga mendengar cerita mu hari ini

Menjadi pengantar, untuk bersujud simpuh pada-Nya

Bersama berbagi hidup denganmu

Muara perjalanan panjangmu

aku ingin

 

Hidupkah kamu ? — 2 August 2017

Hidupkah kamu ?

Kita hidup duhai manusia

Sebagai manusia

Bukan binatang

Yang tanpa aturan di rimba

Menafikan hukum dan kenormalan

Demi mengatasnamakan kewajaran

Itu bukan manusia, wahai para manusia

Jangan seperti bunga-bunga di taman itu

Hanya selalu menari

Tapi tak ada daya kreasi

Selalu tertawa

Tanpa membuat yang lain tersenyum

Itu bukan manusia, wahai manusia

Jadilah manusia yng hidup

Karena kau bukan batu

Selalu bergeraklah dijalan dijalannya manusia

Bukan jalan binatang dan tumbuhan

Dalam Senja yang Mulai Memerah —

Dalam Senja yang Mulai Memerah

Dalam senja yang mulai memerah, di kala burung-burung camar kembali ke peraduan setelah lelah terbang seharian lepas. Disaat angin sepoi-sepoi mulai meninabobokan alam semesta menutup tirai kehidupan untuk hari ini. Mencukupkan sinar matahari yang terpancar dari sang surya, berganti dengan bulan bundar purnama yang gagah berani bertengger di langit.

Saat itulah seorang perempuan dengan sweater warna hijau dipadu dengan syal warna hijau tua yang melingkar dilehernya tersenyum sambil memejamkan mata dengan kedua tangan dibiarkan mengepak disamping kanan dan samping kiri. Duhai, dia sedang merasakan udara yang menyulut diantara rongga-rongga hidungnya. Dia sedang menikmati suasana seelok ini di tepi sebuah danau buatan yang terlihat sangat alami. Dia sedang bercerita kepada alam betapa berwarnanya nasib yang dia terima. Sang alam memberi telinga dan mendengarkan cerita penuh takjim. Mendengarkan lalu menjawab dengan angin yang menenangkan.

***

“Raya, kemana saja kau ini? Aku lelah mencarimu seharian!” teriak seorang laki-laki dari belakang. Yang dipanggil hanya menoleh sebentar lalu melanjutkan langkah. Laki-laki itu lalu mengejarnya dan menahan tangannya.

“Ada apa mencariku Rehan?” tanya Raya dengan wajah yang memerah. Mereka sekarang berhadapan.

“Hari ini jadwalnya kita “bermain” Rayaaa” dengan memberikan tanda kutip dengan tangan pada kata  bermain jawab Rehan dengan mengusap kepala Raya. Yah, ini adalah jadwal bulanan Raya untuk melakukan Kemoterapi. Raya divonis menderita penyakit kangker hati stadium empat. Kemoterapi tidak akan menghilangkan penyakitnya. Namun hanya menunda penyebaran kangker, dan di setiap kemo itulah Rehan tidak pernah absen menemani Raya. Dimana keluarga Raya? Orang tua Raya meninggal di musibah bom Bali dua yang merenggut semua kebahagiaan Raya, hanya tersisa Kakak laki-lakinya Lenan. Raya dan Lenan pindah ke Lombok untuk tinggal bersama Nenek mereka. Lenan sekarang mengurusi Resort keluarga dan selalu mengembangkannya. Rehan adalah teman Lenan namun sering bermain bertiga dengan Raya. Mereka dari kecil berteman akrab dan bertemu saat keluarga Raya berkunjung ke Lombok dulu. Lalu sekarang dipertemukan di dalam satu Univertas ternama di daerah Lombok. Lenan selalu mempercayakan adeknya ditangan Raya termasuk urusan kemo tersebut.

Disetiap sebelum berangkat kemo Rehan selalu memberikan kejutan untuk Raya. Semua dia berikan agar Raya meresa senang dan tidak merasakan sakitnya proses kemo. Dan setiap pulang dari kemo Rehan mengajak Raya untuk menikmati indahnya alam di daerah Lombok semua tempat yang tidak pernah dikunjungi Raya. Mulai dari pantai di setiap Gili.

Raya selalu bahagia tiap kakinya berhasil menyentuh pasir pantai dan terkena ombak. Raya bahagia, tawa simpulnya. Demi melihat semua keceriaan di wajah Raya, Rehan rela menukar semua waktunya untuk menyiapkan kejutan demi kejutan untuk Raya. Semua hal indah ini terekam dengan baik dan manis di kamera Rehan. Semua hal yang mereka lakukan dan keceriaan itu.

Dan sore itu selepas kemo, Rehan seperti biasa mengajak Raya kesuatu tempat namun ada yang berbeda. Mata Raya ditutup oleh syal sedari tempat kemo, hingga mereka turun dari mobil dan berjalan menuju suatu tempat. Saat membuka mata Raya terkejut dan sangat bahagia, dia sekarang berada dalam sebuah bukit yang dari sini bisa memandang semua keindahan gili. Dan dihadapannya tertata dengan rapi meja yang terdapat bunga tulip kesukaannya dalam sebuah vas bunga dan buah strawberi dalam piring di padu dua minuman. Sore yang luar biasa di mata Raya. Dia menutup mulut dengan dua tangannya.

“Rehaaaaaaaan” Raya berteriak kencang sekali, “Terima kasih banyak yaaaaaa” tanpa malu, tanpa berfikir panjang.

Rehan tersenyum puas, semua yang dia lakukan selalu berhasil membuat Raya bahagia. Setidaknya ini mengurangi beban yang ditanggung Raya dan melupakan sejenak beban rasa sakit kangker yang sebenarnya selalu menggerogoti tubuh Raya.

“Iyaaaaa sama sama Rayaaaaaaaaaaa” teriak Rehan menjawab ucapan terima kasih yang diucapkan Raya padanya. Ada yang ingin diungkapkan oleh Rehan padanya, kemudian mengambil gitar dan mulai mendengdangkan sebuah lagu. Lagu yang dalam dan syarat akan makna. Lagu yang liriknya menggambarkan perasaan Rehan terhadapap perempuan yang dicintainya sedari kecil, sedari mereka masih bermain gundu dan petak kumpat, sedari rambut Raya masih dikepang dua. Rehan mengungkapkannya melalui sebuah lagu.

Rehan duduk bukan di kursi yang telah dia siapkan, bukan. Dia duduk di tepi tebing dan menghadap ke arah matahari terbenam. Raya duduk disampingnya. Mendengarkan dengan bibir selalu tersenyum, wajah mereka berhadapan. Saling menatap penuh makna dan dalam.

You’ve got that smile,

That only heaven can make.

I pray to God everyday,

That you keep that smile.
Yeah, you are my dream,

There’s not a thing I won’t do.

I’ll give my life up for you,

Cos you are my dream.
And baby, everything that I have is yours,

You will never go cold or hungry.

I’ll be there when you’re insecure,

Let you know that you’re always lovely.

Girl, cos you are the only thing that I got right now

 

One day when the sky is falling,

I’ll be standing right next to you,

Right next to you.

Nothing will ever come between us,

I’ll be standing right next to you,

Right next to you.

Saat lagu itu selesai didendangkan Rehan, dia mengubah posisi duduknya untuk sekarang berhadapan dengan Raya, Raya melakukan hal yang sama. Rehan  memegang tangan kanan Raya dan mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Dia mengeluarkan kotak cincin. Rehan terlihat gugup sekali, untuk kesekian kali menarik nafas dan mengeluarkannya. Seperti itu selama beberapa menit. Raya di hadapannya hanya tersenyum simpul dan tidak bisa berkata apa-apa sekarang, tidak seperti yang dia lakukan biasa selalu berteriak sesuka. Raya hanya diam menunggu kata yang akan di ucapkan Rehan dengan wajab merah merona dan pipi sebelah kanan terkena piasan senja yang meranum. Raya menyimak.

“Aku ngga bisa ngomong romantis, aku ngga bisa apa-apa sekarang. Aku hanya mau ngomong kalo aku cinta sama kamu Raya, sedari dulu kita waktu kecil. Dan aku berusaha meyakinkan perasaanku. Ternyata memang benar, aku mencintaimu sebagai seorang wanita bukan sebagai adek dari Lenan. Aku mencintaimu. Apakah kau menerimaku?” ungkap semua isi hati Rehan terhadap Raya. Raya hanya bisa mengangguk mantab dengan senyum diwajahnya. Rehan lalu memasangkan cincin yang manisssss sekali di jari kelingking Raya sebelah kiri. Lalu mencium kening Raya. Tanpa Raya sadar, semua kejadian itu terekam dalam kamera Lenan. Ada sesuatu yang akan terjadi.

Saat itu saat Rehan selesai mencium kening Raya, darah keluar dari hidung Raya. Raya mimisan. Dan pingsan. Dengan panik Rehan dibantu Lenan. Rumah sakit yang biasa menangani Raya memang tidak jauh dari lokasi Bukit itu. Raya segera mendapat penanganan darurat. Dan Raya koma, seluruh organ masih berfungsi namun Raya koma. Rehan dan Lenan sudah menduga hal ini akan terjadi. Dokter mengatakan hidup Rehan hanya tinggal menghitung hari.

Dalam menunggu raya yang koma, Rehan menyiapkan sesuatu. Semua hasil video yang direkam saat mereka bersama dari dulu dari mereka kecil. Semua digabungkan. Rehan membuat sebuat film dokumenter yang Raya sebagai tokoh utamanya. Semua ekspresi Raya terekam dengan manis di kamera Rehan yang memang sejak kecil sudah menyukai dunia perfilman. Rehan mempersembahkannya untuk perempuan luas biasa yang sekarang sedang berjuang melawan semua rasa sakitnya. Meskipun Rehan tak pernah tau apakah ia masih punya kesempatan untuk melihat senyum itu lagi.

Rumah sakit, diatas ranjng sedang terbaring lemas tak berdaya dan tak sadarkan diri. Lenan memagang tangan kiri adeknya sambil terus melafalkan doa-doa dan harapan agar adeknya sadar. Sudah satu minggu Raya tak sadarkan diri, dan sore itu menuju senja. Tuhan memberikan angin bahagia, Raya sadar. Rehan kata pertama yang diucapkan Raya. Saat kedua matanya mulai melihat langit-langit kamar rumah sakit. Lenan  mengambil ponsel di saku celananya. Menghubungi Rehan.

“Rehan, … Raya sadar” sambil terbata-bata Lenan mengucapkannya. Air mata mengalir dari mata Lenan, ada janji kehidupan di mata Raya. Rehan bukan main diseberang telephone sana bergumam mengucapkan syukur. Raya sadarkan diri.

***

Di tepi danau seorang perempuan yang mengenakan syal itu menoleh kebelakang mendapati Rehan berdiri dibelakangnya membawa seikat bunga tulip. Dan menggandeng tangan kekasihnya. Mereka akan pergi kesuatu tempat. Bioskop. Ya, hari ini film dokumenter karya Rehan akan di tayangkan di bioskop.

Saat memasuki ruang itu, tangan Raya semakin dingin di pegangan Rehan. Raya tidak suka kegelapan. Rehan menggenggam tangan Raya semakin erat dan meyakinkan dengan tatapannya berbisik “semua akan baik-baik saja” . Mereka orang pertama yang datang memasuki ruang itu menonton film tersebut. Film tentang mereka. Dan para penonton memasuki ruangan. Penayangan perdana film itu “ Dalam Senja yang Mulai Memerah”.

Betapa terkejutnya Raya yang melihatnya. Film itu adalah dia sebagai tokohnya. Film itu tentang dia, seluruh penonton dengan takjim menonton bahkan ada satu dua yang menangis saat adegan Rehan menjaga Raya di Rumah sakit. Semua ekspresi Raya berhasil membius penonton. Raya melihat film itu dari awal, walaupun saat pertengahan dia mulai lemas dan Rehan hendak membawa Raya keluar namun Raya menolak. Raya ingin menyaksikan film itu hingga selesai, film tentang perjalanan hidupnya bersama Rehan dan penyakitnya.

Dan saat film akan berakhir bahagia, film yang diakhiri oleh adegan di tepi bukit di langit senja itu. Raya mengucapkan kata “Terima kasih Rehan untuk semuanya, aku sangat mencintaimu” ucap Raya lirih. Dan itulah kata terakhir Raya, Raya menghembuskan nafas terakhirnya dengan kepala disendarkan di bahu Rehan. Film berakhir. Penonton menyaksikan ending bahagia di film.

Namun kisah sebenanya adalah ketika Rehan mencium kening Raya yang ada di pangkaunnya. Dimana entah dari mana lampu berfokus di Rehan dan Raya. Rehan menangis dalam lirih kemudian memapah tubuh Raya membawanya keluar dari bioskop. Saat itulah penonton diam seribu kata, terkesima atas adegan ini. Film itu  menjadi film yang menarik jutaan penonton atas kisahnya.

***

Dan sore itu menuju senja, setelah Raya dikebumikan. Rehan menuju suatu tempat. Bukit itu. Menengadahkan tangannya merelakan hujan membasahi tubuhnya. Sore itu, dia melepas kepergian Raya dengan damai.

Ending

Yang tersungkur — 26 July 2017

Yang tersungkur

Dan tersungkurlah kata dalam jurang penantian 

Tanpa penjelasan

Tanpa puisi enggan memungutnya

Dan terbelenggulah bait

Tanpa sempat terangkai dalam sajak

Aku membersamainya dalam selaras

Andai kau sudi menjumpa sebelum alunan syair bait terakhir 

Elegi kata berirama sendu

Pesona wisata alam Sungai Maron — 12 July 2017

Pesona wisata alam Sungai Maron

Sungai Maron atau yg lebih dikenal oleh penduduk sekitar Kali Maron ini terletak di  Desa
Dersono Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan . Wisata alam yang berupa susur sungai yang wajib dikunjungi . Hal ini dikarenakan pesona alam yang menakjubkan berupa gugusan pohon kelapa, dan aliran sungai jernih merupakan perpaduan yang memanjakan mata kita . Rasa suntuk pun hilang seketika saat perahu mulai menyusuri sungai, dengan membayar seratus ribu rupiah per kapal kita bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa . Seperti layaknya Sungai Amazon . Di ujung sungai ini adalah pantai, hanya dengan menambah lima ribu rupiah per orang kita bebas bermain di pantai tersebut .
Budaaaal !!  

Review Film Money Ball — 31 May 2017

Review Film Money Ball

Review Film Meney Ball

Sosiologi Organisasi

Genre : Drama

Tanggal rilis : 23 September 2011

Pemain : Brad Pitt, Jonah Hill, Philip Seymour Hoffman

Produser : Michael De Luca, Rachael Horovitz, Scott Rudin

Distributor : Columbia Pictures

Film ini merupakan film yang diadaptasi dari buku dan kisah nyata, menceritakan tentang sebuah tim Oakland Athletic yang berupaya untuk mempersiapkan pertandingan di tahun 2002, namun mendapat kendala karena tiga orang pemain berpindah ke tim lawan hal ini menimbulkan masalah yang dihadapi oleh general manajer bernama Billy Beane. Kemudian dalam perjalanannya GM menemukan Peter Brand yang mampu melakukan analis perhitungan kemampuan pemain dengan lebih jeli dan akurat karena merupakan lulusan jurusan ekonomi dari salah satu kampus terbaik di Amerika yaitu Yale University.

Saat itu cara Beane menguji Brand adalah dengan memintanya untuk menganalisa kondisinya setelah lulus SMA, dengan berbagai kalkulasi akhirnya ditemukan bahawa seharusnya tidak memasukkan Brand dalam daftar pemain pilihan hingga putaran ke sembilan dan seharusnya Beane mengambil beasiswanya di Stanford, hal sesuai dengan fakta bahwa Beane gagal menjadi pemain unggulan di Major League. Setelah terpana dengan analisanya Beane lalu menjadikannya bagian dalam tim yang dapat menerapkan teori tersebut sekaligus untuk menghemat anggaran.

Dalam analisanya terhadap pemain Petter menggunakan On Base Percentage untuk mengetahui nilai dari pemain dan tidak lagi menggunakan cara lama yang mengandalkan instink dan pengalaman pemain. Liku perjalanan bertambah saat Billy dan Petter menuai kecaman dari petinggi tim karena merasa angka dan startistik tidak cocok jika diterapkan dalam baseball namun hal ini tidak membuat Billy berhenti dan tetap melanjutkan rencananya dan memecat Grady karena dinilai menghina metode yang mereka gunakan. Saat musim dimulai Oakland Athletic ternyata diperkuat oleh pemain buangan yang tidak dibutuhkan oleh tim lain karena terdapat karakteristik yang umumnya tidak disukai oleh pencari bakat namun menurut analisa Petter sangat berpotensi dalam memperkuat timnya. Hal ini membuat Petter Brand membentuk formasi baru dari pemain buangan tersebut dengan analisa OBS.

Oakland Athletic merupakan tim dengan anggaran terbatas namun dapat memperoleh pemain dengan kualitas yang lebih baik dari biasanya, Beane menyetujui semua usulan pemain dari Brand hal ini menuai kritik dari semua tim pencari bakat dan pelatih salah satunya Philip yang mengesampingkan cara Brand dan Beane dan tetap menjalankan metode lama dan Beane juga menjual pemain andalannya dan tetap memaksa menggunakan pemain baru.

Hal yang disayangkan adalah saat awal musim Oakland Athletic bermain buruk, seketika tim tersebut menuai kritik dari berbagai pihak. Namun Beane mengatasinya dengan kepala dingin dengan menghadap pemilik klub untuk tetap menggunakan strategi baru usungan dari Brand dengan alasan pemain hanya butuh waktu dan adapsi saja. Hal ini terbukti dengan dengan pencapaian rekor fenomenal yaitu kemenangan berturut-turut berkat usaha dan kerja keras dari tangan dingin Beane juga didukung data statistik dengan metodenya Brand membuat tim yang dari bawah menjadi papan atas dan mencetak rekor baru dalam American League.

Film ini juga mengisahkan tentang putri Beane yang mempunyai ketertarikan pada dunia Baseball yang juga sering mempengaruhi keputusan yang diambil Beane dalam menjalankan. Dalam satu pertandingan Beane tidak mau menonton televisi atau mendengarkan radio saat liputan pertandingannya di ajang final, saat sudah unggul 11-0 Brand muncul ke studion, namun mereka lengah dan membiarkan Royal’s menyamakan kedudukan namun pada akhirnya mereka yang menang dan kemudian menjadi rekor mahkota kemenangan atas Royal’s tersebut.

Namun keberhasilan ini ternyata harus berhenti dan menelan pil pait kekalahan di ronde pertama pasca musim dari Minnesota Twins. Beane selaku GM merasa sangat kecewa namun bangga karena berhasil membuktikan metode data statistik OBS dari Brand. Dari sini belajar apa penyebab kekalahan dari Oakland Athletic karena satu-satunya cara memenangkan pertandingan adalah memiliki dasar fundamental. Walaupun gagal namun Beane mendapat tawaran dari Red Sox yang jauh lebih besar dari Athletic, namun setelah putrinya menyanyikan lagu dengan lirik “ lat me know if you change your mind about staying in California, if not you were a really great dad” Brand menolak tawaran menjadi GM dengan gaji terbesar saat itu yang dibuat oleh John karena beranggapan sabermatic adalah masa depan dari baseball.

Brand memilih untuk bertahan mengabdi pada Athletic akan tetapi metodenya diadapsi oleh tim Red Sox. Dengan memanfaatkan sabermatric Red Sox berhasil menjuarai World Series untuk pertama kalinya sejak tahun 1918.

Protected: Entah — 27 May 2017
Runyam — 24 March 2017

Runyam


Aku remuk

Menggigil runyam dalam jejak

Aku lebur

Dalam pelukan nestapa

Menghirup asap sisa pembakaran semalam

Masih kudengar 

Renyah tawamu

Itu ilusi

Bodoh !

Lalu beranjak turun

Lereng gunung Welirang

Sunyi

Tidak dengan otakku

Masih panas keningku 

Kau berpaling 

Mengangguk iya saat dia bertutur cinta

Aku remuk tak berbentuk

Runyam

Biru — 19 March 2017

Biru

Di tepi pantai

Diapit perahu perahu nelayan yg tertambat 

Di atas pasir pantai yg lembut dan batu batu kecil

Anak anak berkulit legam terbakar teriknya matahari, enggan bersekolah dg uang sesal di dalam dompet 

Hasil jerih payah membabu pada nelayan

Ibu ibu menggendong anaknya yg ingusan

Nelayan yg bercengkrama membicarakan masalah laut aku tak paham mungkin hanya cangkir kopi yg dapat mengerti

Pelelangan ikan yg tidak terlampau ramai, bukan musim ikan katanya

Kotak besar, “Pembangunan Masjid” penuh ikan dari satu dua ekor hasil tangkapan

Birunya laut, langit, perahu ah komposisi yg tepat bukan ?

Pulau sempu hanya dua tiga kali dayung tapi urung aku kesana, bukankah ada sesuatu yg akan yg akan sangat spesial saat kita mengurungkan nya membuat nya tidak terjadi, meski dg mudah membuat nya terjadi .

Akan sangat menyenangkan menyimpan sepotong kejadian yg hanya sepintas terjadi dan membuat penasaran saat mengenangnya agar ada celah untuk membayangkan lagi kenangan itu . Memutuskan cukup, hanya mereka-reka seperti apa indahnya pulau Sempu dg segala keanggunan nya . 

Itu lebih menyenangkan bagiku, merasa cukup justru saat kesempatan terbuka lebar di depan mata . Hal itu juga di Pantai Clungup, pantai yg masih perawan masih indah seperti yg kubayangkan . Urung sampai kesana, tapi sudah puas saat bertemu gerombolan lain pantainya bagus .

Sesederhana itu kesempatan .